Thursday, 19 November 2015

Seni dan Budaya Sulawesi Tengah

Budaya

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.


Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.

Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.


Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional

Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduknya memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu serta Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama dan Datuk Mangaji, ulama dari Sumatera Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.


Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh misionaris Belanda, A.C Cruyt dan Adrian.

lklim

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.


Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celsius.

Flora dan Fauna

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, dimana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin. Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.


Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Senjata Tradisional

Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.





Tradisi dan Budaya Sulawesi Selatan

1. Rumah Adat

Rumah adat Sulawesi Selatan disebut Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat orang Toraja di Sulawesi Selatan. Kolong rumah itu berupa kandang kerbau belang atau tedong bonga. Kerbau ini merupakan lambang kekayaan, disepan rumah tersusun tanduk tanduk kerbau,sebagai perlambang pemiliknya telah berulang kali mengadakan upacara kematian secara besar besaran. Tongkonan terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu, ruang makan, dan ruang belakang.

2. Pakaian Adat

Pakaian adat Selawesi Selatan yang dipakai prianya berupa tutup kepala, baju yang disebut baju bella dada, sarung yang disebut tope, keris tata ropprng (terbungkus dari emas seluruhnya) dan gelang nada yang disebut pottonaga.

Sedangkan wanitanya memakai ikat kepala, baju lengan pendek, Tope atau sarung dengan rantainya, ikat pinggang dengan sebilah keris terselip didepan perut. Perhiasan yang dipakai adalah anting anting panjang atau bangkara a’rowe, kalung tunggal atau geno sibatu dan gelang tangan. Pakaian ini berdasarkan adat Bugis Makasar.

3. Tari tarian Daerah Selawesi Selatan

a. Tari Kipas, yang mempertunjukkan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dalam suasana gemuaku sambil mengikuti alunan lagu.
b. Tari Basaro,merupakan tarian untuk menyambut para tamu terhormat. Gerak gerakkan badannya sangat luwes.
c. Tari Bo’da, yang mendasarkan garapannya pada unsur gerak tari tradisional yang berkembang di Kabupaten Selayar. Dengan iringan musik Bo’da kesuluruhan gerakkannya menggambarkan luapan kegembiraan gadis gadis dimalam terang bulan pada saat menjelang musim panen.

4. Senjata Tradisional

Badik merupakan senjata tradisional yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Bentuknya kokoh dan cukup mengerikan. Senjata terkenal lainnya adalah peda (semacam perang), sabel, tombak, dan perisai.

5. Suku  : Bugis, Makkasar, Mandar, Toraja, dan lain lain.

6. Bahasa Daerah : Makkasar, Bugis, Toraja, Mandar, dan lain lain.

7. Lagu Daerah : Angin Mamiri, Pakarena, Marencong.




Seni dan Budaya Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara terletak antara 3 derajat sampai 6 derajat Lintang Selatan dan 120 - 124.06 derajad Bujur Timur berbatasan dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah di sebelah Utara, laut Flores disebelah Selatan, dan dengan laut Banda di bagian Timur serta teluk Bone di bagian Barat. Jumlah penduduk saat ini diperkirakan sekitar 1.594.990 jiwa dengan penduduk asli yang terdiri dari 5 jenis suku yang berbeda yaitu, suku Tolaki, suku Morunene, suku Buton, suku Muna dan suku Bajo.

Sulawesi Tengara dapat dicapai melalui udara dari Jakarta atau Surabaya melalui Ujung Pandang dengan pesawat merpati Airlines dan melalui laut dilayani oleh PELNI, memlalui darat dapat dicapai melalui kota-kota propinsi di Sulawesi. Obyek dan daya tarik wisata Propinsi Sulawesi Tenggara selain seni budaya dan adat istiadat juga bertumpu pada obyek-obyek dan daya tarik wisata alam khususnya wisata bahari.

Menurut Yayasan Wallacea dan Eco Survey dari Inggeris yang bekerja sama dengan LIPI diketahui bahwa di gugusan pulau-pulau Tukang besi ( WAKATOBI) terdapat taman laut yang indah yang kaya dengan biota laut. Taman laut di kawasan tersebut mempunyai rating (nilai) yang tinggi dan merupakan salah satu taman laut terbaik di dunia. Hampir di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara mempunyai jenis tarian khusus, namun ada satu tarian yang identik dengan Sulawesi Tenggara yang dinamakan tarian "Lulo" atau "Molulo". Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang sakral dan penuh filosofis, namun dalam perkembangannya Molulo sekarang sudah menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat yang biasanyan dilakukan secara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara pesta yang dilaksanakan oleh instansi-instansi atau ogranisasi.
Salah satu atraksi unik di Sulawesi Tenggara terdapat di Muna yaitu atraksi adu kuda jantan yang memperebutkan kuda betina. Atraksi tersebut sangat menarik uantuk ditonton dan sudah dikenal oleh para wisatawan.

Ada beberapa tradisi yang berasal dari Sulawesi tenggara ini dan ini mungkin menjadi bagian dari adat istiadat di masyarakat Sulawesi Tenggara. Diantara adat istiadat tersebuta adalah Tradisi Kalosara, Tradisi Karia, Layangan Tradisional "Kaghati", Tradisi Pusuo serta Pesta Adat Pakande Kandea.

Kebudayaan Daerah, Upacara Adat serta seni tradisional di Sulawesi Tenggara :
Sama seperti daerah lain yang juga memiliki nilai nilai tradisi yang kental di propinsi Sulawesi Tenggara ini juga terdapat upacara adat warisan turun temurun. Keunikan tradisi yang berupa upacara adat ini tentu layak di lestarikan demi kemajuan budaya dan wisata indonesia.

  1. Upacara Adat Posuo (Masyarakat Buton Raya)
  2. Upacara Adat Kabuenga, dari Kabupaten Wakatobi
  3. Upacara Adat Karia, dari Wangi-wangi di Kabupaten Wakatobi
  4. Upacara Adat Mataa, dari Kabupaten Buton
  5. Upacara Adat Tururangiana Andala, dari Pulau Makassar di Kota Baubau
  6. Upacara Adat Religi Goraana Oputa, oleh masyarakat Buton Raya
  7. Upacara Adat Religi Qunua, oleh masyarakat Buton Raya
  8. Upcara adat Bangka Mbule Mbule di Kabupaten Wakatobi.

Seni Tari Tradisional daerah Sulawesi Tenggara :

  1. Tari Lariangi dari Kabupaten Wakatobi
  2. Tari Balumpa dari Kabupaten Wakatobi
  3. Tari Potong Pisang, dari Kabaena di Kabupaten Bombana
  4. Tari Lulo Alu, dari Kabaena Kabupaten Bombana




Tradisi dan Budaya Gorontalo

Tradisi Umum Warga Gorontalo

      Dilihat secara global terlebih dulu, sulawesi munculnya bukan karena sulawesi itu memang ada, seperti pulau jawa ataupun sumatra. Sulawesi muncul karena adanya proses epirogenesa negatif, yang maksudnya karena pengangkatan batuan di dasar laut dan menurunnya lautan. Yang berakibat munculnya pulau sulawesi.

      Dan karena proses itulah, gorontalo dikelilingi oleh gunung kapur. Tak heran pula Gorontalo beriklim panas tropis yang panasnya menyengat kulit. Maka disetiap tempat tertutup di gorontalo, misalkan kantor, ruang sekolah, dan lainnya terdapat AC. Karena memang sangat dibutuhkan dan sangat membantu pekerjaan atau kegiatan.

      Juga ada yang lucu dengan tradisi jadwal dagang di Gorontalo, apabila hari sudah mulai siang sekitar jam 12 siang, banyak toko yang tutup karena hari sudah mulai panas. Para pedagang juga banyak yang tutup saat di hari libur. Padahal logikanya, akan banyak pembeli saat hari libur, hal ini sungguh berbeda dengan teori mereka kebanyakan.

      Hal tersebut dikarenakan, taraf hidup di gorontalo masih sangat tinggi, lapangan pekerjaan masih sangat banyak, berbeda dengan di jawa karena di Gorontalo jumlah lapangan kerja masih sangat banyak dikarenakan jumlah penduduk yang masih minim, maka mereka dalam mengais rejeki tidak terlalu bekerja keras karena standartnya, dengan usaha mereka yang tidak sebegitu besar dibandingkan usaha orang jawa misalnya, mereka sudah mendapatkan hasil yang besar.
Maka, taraf hidup suatu wilayah juga menyebabkan timbulnya tradisi yang berbeda dengan yang lain. Gorontalo dengan taraf hidup tinggi, memunculkan tradisi tertentu yang berbeda dengan taraf hidup di Jawa yang tentunya perjuangannya lebih besar dibandingkan di Gorontalo.

Asal Usul Kebudayaan Tumbilotohe

      Adapun tradisi tumbilotohe yakni tradisi pasang lampu atau menyalakan lampu, merupakan tradisi yang diilakukan oleh orang-orang terdahulu Gorontalo saat penghujung bulan suci ramadhan. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka guna menerangi jalan menuju masjid.

      Seperti diketahui bersama, bahwa pada zaman belum adanya lampu di desa, warga menggunakan lampu minyak sebagai penerang. Oleh karenanya, pada saat malam-malam penghujung ramadhan para warga gorontalo, yang di sana masih belum adanya penerangan berupa lampu elektrik. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah-rumah  mereka guna membantu penerangan bagi orang-orang yang akan menuju mesjid untuk menunaikan ibadah di bulan suci romadhon, seperti terawih, takbiran ataupun i’tikaf di masjid.

      Kebudayaan tumbilotohe secara terus menerus dibudayakan oleh warga Gorontalo saat menjelang bulan romadhon hingga kini. Meskipun sebenarnya hal itu sudah tidak perlu lagi dilakukan. Bila dilihat dari tujuan dilaksanakannya tumbilotohe yang dahulu yakni guna menerangi jalan para warga yang akan beribadah ke masjid, sekarang seharusnya sudah tidak perlu, karena di sepanjang jalan sekarang ini telah diterangi oleh lampu yang sudah sangat membantu penerangan.

Tradisi Wajib Makan saat Lebaran

      seperti tradisi lebaran di wilayah lain, di Gorontalo setelah melaksanakan sholat idul fitri mereka halal bi halal yang dimulai dari keluarga dekat, para tetangga kemudian para kerabat jauh.

      Adapun tradisi unik di Gorontalo saat lebaran yakni, apabila kita pergi ke tempat tetangga kita, misalkan. Kita pasti akan dipersilahkan untuk makan. Tidak hanya disuguhi makanan ringan layaknya di Jawa. Di Gorontalo, semua tamu harus merasakan makanan yang tersedia di rumah tersebut meskipun hanya sesendok, begitu ibaratnya.

      Sehingga, berlebaran di Gorontalo tentunya membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan di jawa yang hanya memberikan suguhan makanan ringan. Juga, bila berlebaran di sana, kita sebagai pengunjung rumah-rumah akan merasakan kenyang yang teramat sangat. Bagaimana tidak, pada tiap kunjungan kita akan dihidangi makanan yang pastinya kita diharuskan untuk mencicipi makanan tersebut.

 Hari Raya Ketupat kampung Jawa

Di Gorontalo juga ada tradisi kupatan, seperti halnya daerah yang lainnya. Tapi ada yang lain dengan tradisi di Gorontalo, pada saat hari raya ketupat yang membedakan dengan hari raya ketupat di daerah-daerah yang lain. Di jawa misalnya, jika hari raya ketupat tradisinya membagi-bagi ketupat kepada para tetangga.  Tapi beda halnya dengan hari raya ketupat di Gorontalo.

Saat hari raya ketupat tiba, tepatnya seminggu setelah hari raya idul fitri, banyak dari warga Gorontalo akan berbondong-bondong pergi ke kampung jawa. Kampung jawa adalah tempat  dimana di sana terkumpul warga yang kebanyakan pendatang dari jawa. Dan di sanalah hari raya ketupat di rayakan, banyak warga Gorontalo yang berbondong-bondong datang ke perkampungan itu untuk menikmati makanan khas kampung jawa. Nama makanannya nasi bulu, hanya di buat di saat hari raya ketupat, juga hanya di kampung jawa.

Semua orang dari segala wilayah Gorontalo berbondong-bondong ke sana untuk merayakan hari raya ketupat. Meskipun mereka tidak ada keluarga ataupun kerabat di sana, mereka bisa bebas berkunjung ke salah satu rumah penduduk di sana. Karena, tiap warga di kampung jawa itu mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan, meskipun mereka tidak dikenal. Semua warga warga di kampung jawa open house atas rumahnya dan juga pastinya akan menghidangkan makanan khas nasi bulu secara cuma-cuma.

Nasi bulu ini khusus dibuat di kampung jawa, karena memang hanya warga kampung jawalah yang paling mengerti dalam memproduksi makanan nasi bulu ini. Kalaupun ada wilayah lain yang bisa membuat nasi bulu, rasanya tidak akan sekhas buatan nasi bulu warga kampung jawa. Padahal, bahan-bahan untuk membuat nasi bulu hanya biasa saja. Hanya beras yang di masak dalam bambu. Tapi memang sepertinya kampung jawa punya keahlian tersendiri dalam membuat nasi bulu.
Atau, jika tidak demikian, ini memang sudah menjadi tradisi mulai terdahulu untuk selalu mengunjungi kampung jawa saat hari raya ketupat. Karena memang sudah dari dulu, di sanalah pusat perayaan hari raya ketupat.

Dahulu, memang yang mengawali adanya acara hari raya ketupat memang dimulai dari kampung jawa. Jadi warga kampung jawa akan mengundang semua kenalan mereka untuk berkunjung ke rumah mereka yang ada di kampung jawa. Dan dihidangkan makanan khas nasi bulu yang memang berasal dari kampung jawa.

Hal inilah yang membuat hari raya ketupat di Gorontalo berbeda dengan di wilayah yang lain. Karena adanya kampung jawa yang khas dengan open housenya juga makanan khasnya,yakni  nasi bulu.