Thursday, 19 November 2015

Seni dan Budaya Sulawesi Tengah

Budaya

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.


Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.

Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.


Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional

Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduknya memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu serta Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama dan Datuk Mangaji, ulama dari Sumatera Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.


Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh misionaris Belanda, A.C Cruyt dan Adrian.

lklim

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.


Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celsius.

Flora dan Fauna

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, dimana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin. Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.


Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Senjata Tradisional

Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.





Tradisi dan Budaya Sulawesi Selatan

1. Rumah Adat

Rumah adat Sulawesi Selatan disebut Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat orang Toraja di Sulawesi Selatan. Kolong rumah itu berupa kandang kerbau belang atau tedong bonga. Kerbau ini merupakan lambang kekayaan, disepan rumah tersusun tanduk tanduk kerbau,sebagai perlambang pemiliknya telah berulang kali mengadakan upacara kematian secara besar besaran. Tongkonan terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu, ruang makan, dan ruang belakang.

2. Pakaian Adat

Pakaian adat Selawesi Selatan yang dipakai prianya berupa tutup kepala, baju yang disebut baju bella dada, sarung yang disebut tope, keris tata ropprng (terbungkus dari emas seluruhnya) dan gelang nada yang disebut pottonaga.

Sedangkan wanitanya memakai ikat kepala, baju lengan pendek, Tope atau sarung dengan rantainya, ikat pinggang dengan sebilah keris terselip didepan perut. Perhiasan yang dipakai adalah anting anting panjang atau bangkara a’rowe, kalung tunggal atau geno sibatu dan gelang tangan. Pakaian ini berdasarkan adat Bugis Makasar.

3. Tari tarian Daerah Selawesi Selatan

a. Tari Kipas, yang mempertunjukkan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dalam suasana gemuaku sambil mengikuti alunan lagu.
b. Tari Basaro,merupakan tarian untuk menyambut para tamu terhormat. Gerak gerakkan badannya sangat luwes.
c. Tari Bo’da, yang mendasarkan garapannya pada unsur gerak tari tradisional yang berkembang di Kabupaten Selayar. Dengan iringan musik Bo’da kesuluruhan gerakkannya menggambarkan luapan kegembiraan gadis gadis dimalam terang bulan pada saat menjelang musim panen.

4. Senjata Tradisional

Badik merupakan senjata tradisional yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Bentuknya kokoh dan cukup mengerikan. Senjata terkenal lainnya adalah peda (semacam perang), sabel, tombak, dan perisai.

5. Suku  : Bugis, Makkasar, Mandar, Toraja, dan lain lain.

6. Bahasa Daerah : Makkasar, Bugis, Toraja, Mandar, dan lain lain.

7. Lagu Daerah : Angin Mamiri, Pakarena, Marencong.




Seni dan Budaya Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara terletak antara 3 derajat sampai 6 derajat Lintang Selatan dan 120 - 124.06 derajad Bujur Timur berbatasan dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah di sebelah Utara, laut Flores disebelah Selatan, dan dengan laut Banda di bagian Timur serta teluk Bone di bagian Barat. Jumlah penduduk saat ini diperkirakan sekitar 1.594.990 jiwa dengan penduduk asli yang terdiri dari 5 jenis suku yang berbeda yaitu, suku Tolaki, suku Morunene, suku Buton, suku Muna dan suku Bajo.

Sulawesi Tengara dapat dicapai melalui udara dari Jakarta atau Surabaya melalui Ujung Pandang dengan pesawat merpati Airlines dan melalui laut dilayani oleh PELNI, memlalui darat dapat dicapai melalui kota-kota propinsi di Sulawesi. Obyek dan daya tarik wisata Propinsi Sulawesi Tenggara selain seni budaya dan adat istiadat juga bertumpu pada obyek-obyek dan daya tarik wisata alam khususnya wisata bahari.

Menurut Yayasan Wallacea dan Eco Survey dari Inggeris yang bekerja sama dengan LIPI diketahui bahwa di gugusan pulau-pulau Tukang besi ( WAKATOBI) terdapat taman laut yang indah yang kaya dengan biota laut. Taman laut di kawasan tersebut mempunyai rating (nilai) yang tinggi dan merupakan salah satu taman laut terbaik di dunia. Hampir di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara mempunyai jenis tarian khusus, namun ada satu tarian yang identik dengan Sulawesi Tenggara yang dinamakan tarian "Lulo" atau "Molulo". Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang sakral dan penuh filosofis, namun dalam perkembangannya Molulo sekarang sudah menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat yang biasanyan dilakukan secara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara pesta yang dilaksanakan oleh instansi-instansi atau ogranisasi.
Salah satu atraksi unik di Sulawesi Tenggara terdapat di Muna yaitu atraksi adu kuda jantan yang memperebutkan kuda betina. Atraksi tersebut sangat menarik uantuk ditonton dan sudah dikenal oleh para wisatawan.

Ada beberapa tradisi yang berasal dari Sulawesi tenggara ini dan ini mungkin menjadi bagian dari adat istiadat di masyarakat Sulawesi Tenggara. Diantara adat istiadat tersebuta adalah Tradisi Kalosara, Tradisi Karia, Layangan Tradisional "Kaghati", Tradisi Pusuo serta Pesta Adat Pakande Kandea.

Kebudayaan Daerah, Upacara Adat serta seni tradisional di Sulawesi Tenggara :
Sama seperti daerah lain yang juga memiliki nilai nilai tradisi yang kental di propinsi Sulawesi Tenggara ini juga terdapat upacara adat warisan turun temurun. Keunikan tradisi yang berupa upacara adat ini tentu layak di lestarikan demi kemajuan budaya dan wisata indonesia.

  1. Upacara Adat Posuo (Masyarakat Buton Raya)
  2. Upacara Adat Kabuenga, dari Kabupaten Wakatobi
  3. Upacara Adat Karia, dari Wangi-wangi di Kabupaten Wakatobi
  4. Upacara Adat Mataa, dari Kabupaten Buton
  5. Upacara Adat Tururangiana Andala, dari Pulau Makassar di Kota Baubau
  6. Upacara Adat Religi Goraana Oputa, oleh masyarakat Buton Raya
  7. Upacara Adat Religi Qunua, oleh masyarakat Buton Raya
  8. Upcara adat Bangka Mbule Mbule di Kabupaten Wakatobi.

Seni Tari Tradisional daerah Sulawesi Tenggara :

  1. Tari Lariangi dari Kabupaten Wakatobi
  2. Tari Balumpa dari Kabupaten Wakatobi
  3. Tari Potong Pisang, dari Kabaena di Kabupaten Bombana
  4. Tari Lulo Alu, dari Kabaena Kabupaten Bombana




Tradisi dan Budaya Gorontalo

Tradisi Umum Warga Gorontalo

      Dilihat secara global terlebih dulu, sulawesi munculnya bukan karena sulawesi itu memang ada, seperti pulau jawa ataupun sumatra. Sulawesi muncul karena adanya proses epirogenesa negatif, yang maksudnya karena pengangkatan batuan di dasar laut dan menurunnya lautan. Yang berakibat munculnya pulau sulawesi.

      Dan karena proses itulah, gorontalo dikelilingi oleh gunung kapur. Tak heran pula Gorontalo beriklim panas tropis yang panasnya menyengat kulit. Maka disetiap tempat tertutup di gorontalo, misalkan kantor, ruang sekolah, dan lainnya terdapat AC. Karena memang sangat dibutuhkan dan sangat membantu pekerjaan atau kegiatan.

      Juga ada yang lucu dengan tradisi jadwal dagang di Gorontalo, apabila hari sudah mulai siang sekitar jam 12 siang, banyak toko yang tutup karena hari sudah mulai panas. Para pedagang juga banyak yang tutup saat di hari libur. Padahal logikanya, akan banyak pembeli saat hari libur, hal ini sungguh berbeda dengan teori mereka kebanyakan.

      Hal tersebut dikarenakan, taraf hidup di gorontalo masih sangat tinggi, lapangan pekerjaan masih sangat banyak, berbeda dengan di jawa karena di Gorontalo jumlah lapangan kerja masih sangat banyak dikarenakan jumlah penduduk yang masih minim, maka mereka dalam mengais rejeki tidak terlalu bekerja keras karena standartnya, dengan usaha mereka yang tidak sebegitu besar dibandingkan usaha orang jawa misalnya, mereka sudah mendapatkan hasil yang besar.
Maka, taraf hidup suatu wilayah juga menyebabkan timbulnya tradisi yang berbeda dengan yang lain. Gorontalo dengan taraf hidup tinggi, memunculkan tradisi tertentu yang berbeda dengan taraf hidup di Jawa yang tentunya perjuangannya lebih besar dibandingkan di Gorontalo.

Asal Usul Kebudayaan Tumbilotohe

      Adapun tradisi tumbilotohe yakni tradisi pasang lampu atau menyalakan lampu, merupakan tradisi yang diilakukan oleh orang-orang terdahulu Gorontalo saat penghujung bulan suci ramadhan. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka guna menerangi jalan menuju masjid.

      Seperti diketahui bersama, bahwa pada zaman belum adanya lampu di desa, warga menggunakan lampu minyak sebagai penerang. Oleh karenanya, pada saat malam-malam penghujung ramadhan para warga gorontalo, yang di sana masih belum adanya penerangan berupa lampu elektrik. Mereka menyalakan lampu minyak di depan rumah-rumah  mereka guna membantu penerangan bagi orang-orang yang akan menuju mesjid untuk menunaikan ibadah di bulan suci romadhon, seperti terawih, takbiran ataupun i’tikaf di masjid.

      Kebudayaan tumbilotohe secara terus menerus dibudayakan oleh warga Gorontalo saat menjelang bulan romadhon hingga kini. Meskipun sebenarnya hal itu sudah tidak perlu lagi dilakukan. Bila dilihat dari tujuan dilaksanakannya tumbilotohe yang dahulu yakni guna menerangi jalan para warga yang akan beribadah ke masjid, sekarang seharusnya sudah tidak perlu, karena di sepanjang jalan sekarang ini telah diterangi oleh lampu yang sudah sangat membantu penerangan.

Tradisi Wajib Makan saat Lebaran

      seperti tradisi lebaran di wilayah lain, di Gorontalo setelah melaksanakan sholat idul fitri mereka halal bi halal yang dimulai dari keluarga dekat, para tetangga kemudian para kerabat jauh.

      Adapun tradisi unik di Gorontalo saat lebaran yakni, apabila kita pergi ke tempat tetangga kita, misalkan. Kita pasti akan dipersilahkan untuk makan. Tidak hanya disuguhi makanan ringan layaknya di Jawa. Di Gorontalo, semua tamu harus merasakan makanan yang tersedia di rumah tersebut meskipun hanya sesendok, begitu ibaratnya.

      Sehingga, berlebaran di Gorontalo tentunya membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan di jawa yang hanya memberikan suguhan makanan ringan. Juga, bila berlebaran di sana, kita sebagai pengunjung rumah-rumah akan merasakan kenyang yang teramat sangat. Bagaimana tidak, pada tiap kunjungan kita akan dihidangi makanan yang pastinya kita diharuskan untuk mencicipi makanan tersebut.

 Hari Raya Ketupat kampung Jawa

Di Gorontalo juga ada tradisi kupatan, seperti halnya daerah yang lainnya. Tapi ada yang lain dengan tradisi di Gorontalo, pada saat hari raya ketupat yang membedakan dengan hari raya ketupat di daerah-daerah yang lain. Di jawa misalnya, jika hari raya ketupat tradisinya membagi-bagi ketupat kepada para tetangga.  Tapi beda halnya dengan hari raya ketupat di Gorontalo.

Saat hari raya ketupat tiba, tepatnya seminggu setelah hari raya idul fitri, banyak dari warga Gorontalo akan berbondong-bondong pergi ke kampung jawa. Kampung jawa adalah tempat  dimana di sana terkumpul warga yang kebanyakan pendatang dari jawa. Dan di sanalah hari raya ketupat di rayakan, banyak warga Gorontalo yang berbondong-bondong datang ke perkampungan itu untuk menikmati makanan khas kampung jawa. Nama makanannya nasi bulu, hanya di buat di saat hari raya ketupat, juga hanya di kampung jawa.

Semua orang dari segala wilayah Gorontalo berbondong-bondong ke sana untuk merayakan hari raya ketupat. Meskipun mereka tidak ada keluarga ataupun kerabat di sana, mereka bisa bebas berkunjung ke salah satu rumah penduduk di sana. Karena, tiap warga di kampung jawa itu mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan, meskipun mereka tidak dikenal. Semua warga warga di kampung jawa open house atas rumahnya dan juga pastinya akan menghidangkan makanan khas nasi bulu secara cuma-cuma.

Nasi bulu ini khusus dibuat di kampung jawa, karena memang hanya warga kampung jawalah yang paling mengerti dalam memproduksi makanan nasi bulu ini. Kalaupun ada wilayah lain yang bisa membuat nasi bulu, rasanya tidak akan sekhas buatan nasi bulu warga kampung jawa. Padahal, bahan-bahan untuk membuat nasi bulu hanya biasa saja. Hanya beras yang di masak dalam bambu. Tapi memang sepertinya kampung jawa punya keahlian tersendiri dalam membuat nasi bulu.
Atau, jika tidak demikian, ini memang sudah menjadi tradisi mulai terdahulu untuk selalu mengunjungi kampung jawa saat hari raya ketupat. Karena memang sudah dari dulu, di sanalah pusat perayaan hari raya ketupat.

Dahulu, memang yang mengawali adanya acara hari raya ketupat memang dimulai dari kampung jawa. Jadi warga kampung jawa akan mengundang semua kenalan mereka untuk berkunjung ke rumah mereka yang ada di kampung jawa. Dan dihidangkan makanan khas nasi bulu yang memang berasal dari kampung jawa.

Hal inilah yang membuat hari raya ketupat di Gorontalo berbeda dengan di wilayah yang lain. Karena adanya kampung jawa yang khas dengan open housenya juga makanan khasnya,yakni  nasi bulu.





Monday, 5 October 2015

Tradisi dan Budaya Papua Barat

Papua Barat merupakan provinsi yang terletak di wilayah Indonesia bagian Barat Pulau Papua. Sebelumnya  provinsi ini bernama Irian Jaya Barat dan berdasarkan UU No. 45 tahun 1999 pada tanggal 18 April 2007 Irian Jaya Barat resmi berganti nama menjadi Papua Barat. Seperti yang kita ketahui di Papua dan Papua Barat memiliki banyak keunikkan tersendiri, berbagai macam penduduk dan suku aslinya, alam nan indah serta rumah-rumah yang adat di Papua. Untuk kita seperti biasa kita akan mengenal dan mengulas budaya-budaya yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat.

1. Rumah Adat Papua Barat

Rumah adat Papua Barat yang diberi nama Rumah Kaki Seribu ini berada di TMII kawasan anjungan Papua Barat. Rumah ini dibangun sebagai tempat memeragakan dan memamerkan berbagai peninggalan budayanya seperti peralatan alat musik, pakaian adat, kerajinan tangan yg terdapat di Papua Barat dan lain sebagainya. Arsitektur bangunan ini bercorak Manokrawi. rumah adat ini merupakan rumah panggung yang memiliki banyak tiang sebagai penopangnya.


Rumah Adat Papua Barat di TMII
Namun, sebenarnya rumah adat provinsi Papua Barat yang asli berasal daru suku Arfak, bernama Mod Aki Aksa (Lgkojei) yang berarti Rumah Kaki Seribu. Rumah adat yang asli atapnya terbuat dari daun jerami atau daun sagu dan kayu sebagai tiangnya. Tiang-tiang yang dibuat ada yang pendek dan ada yang tinggi, tiang tersebut berguna untuk melindungi diri dari musuh dan ancaman orang yang berniat jahat atau ilmu hitam.


2. Pakaian Adat Papua Barat

Pakaian adat di wilayah Papua Barat bernama pakaian adat Serui. Tidak jauh berbeda dengan pakaian adat yang ada di Papua, bentuk pakaiannya hampir sama baik pria dan wanita. Model penutup badan bagian bawah serta bajunya sama. Mereka memakai baju dan penutup badan bagian bawah dengan bentuk yang sama. Hiasan didada dan kepala juga mereka kenakan  berupa kalung, gelang, hiasan burung cendrawasih pada bagian kepala daln lain sebagainya.  Merupakan ciptaan baru yang tergambar pada bentuk pakaiannya. Perlengkapan yang dikenakan pria pada saat pernikahan biasanya pengantin pria memegang perisai seperti panah atau tombah agar berkesan adat Papua.


3. Tari daerah Papua Barat

- Tari Perang merupakan tari yang melambangkan kegagahan dan kepahlawanan masyarakat Papua.
- Tari Suanggi merupakan tari yang mengisahkan seorang istri yang mati akibat korban angi-angi (jejadian).



4. Senjata Tradisional: Pisau Belati yang terbuat dari tulang kaki burung, Panah dan Busur. Senjata ini digunakan untuk berperang atau berburu.

5. Suku: Suku Arfak, Suku Asmat, Suku Dani, Suku Mey dan SUku Sentan.

6. Lagu Daerah: Yamko Rambe Yamko, Apuse.





Tradisi dan Budaya Maluku Utara

Jika sebelumnya kita sudah mengenal ciri khas kebudayaan Provinsi Maluku, maka provinsi yang baru diresmikan pada 12 Oktober 1999 yakni Provinsi Maluku Utara yang terbentuk berdasarkan UU No. 46 Tahun 1999. Provinsi ini merupakan hasil pemekaran dari wilayah provinsi Maluku dan menjadi sebuah hal yang harus kita ketahui bersama bagaimana keanekaragaman budaya yang dimilikinya. Letaknya yang menjadikan wilayah ini sebagai surga tropis di Indonesia bagian timur dan dikelilingi oleh laut-laut. Dengan ibukotanya adalah Soffi. Penduduk Maluku Utara didominasi beragama Islam. Tidak jauh berbeda rumah adat, pakaian serta tarian daerah yang dimiliki provinsi Maluku Utara dengan Maluku. Seperti biasa berikut adalah budayanya:

1. Rumah Adat Maluku Utara

Rumah adat Maluku Utara hampir sama dengan rumah adat di Maluku yaitu rumaha adat Baileo. Rumah adat Maluku Utara ini digunakan sebagai tempat bermusyawarah bagi masyarakat dan pemuka-pemuka adatnya. Selain itu sebagai tempat upacara adat seniri negeri. Rumha adat Maluku Utara berbentuk rumah panggung dengan bentuknya yang persegi. Terbuat dari kayu sebagai kerangkanya dan gaba-gaba atau semacam tangkai rumbia sebagai dinding rumahnya. Atap rumah adat ini dibuat agak besar dan tinggi dari bahan rumbia. Selain ini dibuat juga beranda atau teras pada bagian depan rumah.


2. Pakaian Adat Maluku Utara

Pakaian adat Maluku Utara pada pria mengenakan kemeja berenda-renda yang dilapisi dengan pakaian luar berupa jas berwarna merah atau hitam dan berlengan panjang. Pada bagian bawahnya memakai celana panjang model cutbray dan dilapisi ikat pinggang.


Sedangkan pakaian adat pada wanitanya memakai baju cele yaitu kebaya pendek bersuji dan berkanji. Dilengkapi dengan perhiasan anting, kalung panjang dan cincin. Bagian bawahnya mengenakan rok.

3. Tari daerah Maluku Utara

Tari daerah Maluku Utara yaitu Tari Lenso merupakan tari pergaulan bagi seluruh lapisan masyarakat Maluku. Gerak tarian ini lemah lembut dan gemulai, dibawakan oleh satu penari wanita atau lebih.


Tari Lenso

4. Senjata Tradisional Maluku: Senjata Parang-Sawalaku, digunakan pada saat berperang, berburu hewan serta dipakai penari pria pada tarian caklele.

5. Suku: Beraneka ragam suku yang terdapat di Maluku Utara, yakni Suku Loloda, Tobaru, Sawai, Ternate, Makian Barat, Makian Timur, Pagu, Siboyo, Gane, Ange, Suku Arab dan Eropa dan yang lainnya.

6. Bahasa Daerah Maluku Utara: yaitu Bahasa Melayu Utara atau Melayu Ternate.

7. Lagu Daerah Maluku Utara: Lagu Borero dan Moloku Kie Raha.

Sumber : kebudayaanindonesia.com





Tradisi dan Budaya Maluku

Budaya Maluku adalah aspek kehidupan yang mencakup adat istiadat, kepercayaan, seni dan kebiasaan lainnya yang dijalani dan diberlakukan oleh masyarakat Maluku.  Maluku adalah sekelompok pulau yang merupakan bagian dari Nusantara.  Maluku berbatasan dengan Timor di sebelah selatan, pulau Sulawesi di sebelah barat, Irian Jaya di sebelah timur dan Palau di timur laut.  Maluku memiliki beragam budaya dan adat istiadat mulai dari alat musik, bahasa, tarian, hingga seni budaya.

Budaya Kalwedo

Salah satu dari banyaknya budaya Maluku adalah Kalwedo. Kalwedo adalah bukti yang sah atas kepemilikan masyarakat adat di Maluku Barat Daya (MBD). Kepemilikan ini merupakan kepemilikan bersama atas kehidupan bersama orang bersaudara. Kalwedo telah mengakar dalam kehidupan baik budaya maupun bahasa masyarakat adat di kepulauan Babar dan MBD.  Pewarisan budaya Kalwedo dilakukan dalam bentuk permainan bahasa, lakon sehari-hari, adat istiadat, dan pewacanaan.

Nilai Adat Kalwedo

Kalwedo merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial keseharian, dan juga nilai-nilai religius yang sakral yang menjamin keselamatan abadi, kedamaian, dan kebahagiaan hidup bersama sebagai orang bersaudara. Budaya Kalwedo mempersatukan masyarakat di kepulauan Babar maupun di Maluku Barat Daya dalam sebuah kekerabatan adat, dimana mempersatukan masyarakat menjadi rumah doa dan istana adat milik bersama. Nilai Kalwedo diimplementasikan dalam sapaan adat kekeluargaan lintas pulau dan negeri, yaitu: inanara ama yali (saudara perempuan dan laki-laki).  Inanara ama yali menggambarkan keutamaan hidup dan pusaka kemanusiaan hidup masyarakat MBD, yang meliputi totalitas hati, jiwa, pikiran dan perilaku.


Nilai-nilai Kalwedo tersebut mengikat tali persaudaraan masyarakat melalui tradisi hidup Niolilieta/hiolilieta/siolilieta (hidup berdampingan dengan baik).  Tradisi hidup masyarakat MBD dibentuk untuk saling berbagi dan saling membantu dalam hal potensi alam, sosial, budaya, dan ekonomi yang diwariskan oleh alam kepulauan MBD

Budaya Hawear

Hawear (Sasi) adalah budaya yang tumbuh dan berlaku dalam kehidupan masyarakat Kepulauan Kei secara turun menurun. Cerita rakyat, lagu rakyat, dan berbagai dokumen tertulis merupakan prasarana untuk melestarikan kekayaan budaya termasuk Hawear. Sejarah Hawear bermula dari seorang gadis yang diberikan daun kelapa kuning (janur kuning) oleh ayahnya. Kemudian janur kuning itu disisipkan atau diikat di kain seloi yang dipakainya. Gadis tersebut melakukan perjalanan panjang untuk menemui seorang raja (Raja Ahar Danar). Maksud dari janur kuning tersebut sebagai tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seseorang, dimaksudkan agar ia tidak diganggu oleh siapapun selama perjalanan. Janur kuning tersebut diberikan oleh sang ayah, karena sang ayah pernah diganggu oleh orang-orang tak dikenal dalam perjalanannya. Hal ini adalah proses Hawear yang masih dijalankan sesuai dengan maknanya hingga saat ini

Batu Pamali

Batu Pamali adalah simbol material adat masyarakat Maluku. Selain Baileo, rumah tua, dan teung soa, batu Pamali juga termasuk mikrosmos dalam negeri-negeri yang ditempati masyarakat adat Maluku. Batu Pamali merupakan batu alas atau batu dasar berdirinya sebuah negeri adat yang selalu diletakkan di samping rumah Baileo, sekaligus sebagai representasi kehadiran leluhur (Tete Nene Moyang) di dalam kehidupan masyarakat. Batu Pamali sebagai bentuk penyatuan soa-soa dalam negeri adat, dengan demikian batu Pamali adalah milik bersama setiap soa. Di beberapa negeri adat Maluku, batu Pamali dimiliki secara kolektif, termasuk negeri adat yang masyarakatnya memeluk agama yang berbeda. Seiring dengan perkembangan agama di masyarakat, terjadi pergeseran praktik ritus dan keberadaan batu Pamali. Dengan adanya UU No. tahun 1979, adat asli negeri-negeri diganti dengan penyeragaman sistem pemerintahan desa.

Upacara Fangnea Kidabela

Kepulauan Tanimbar yang sekarang menjadi Kabupaten Maluku Tenggara Barat, memiliki kebudayaan yang mengatur persaudaraan dan kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk Duan Lolat dan Kidabela. Duan Lolat mengatur tentang hubungan sosial masyarakat yang luas, yaitu memperkuat hubungan antardua desa atau lebih, dan hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Kidabela. Upacara Fangnea Kidabela memperkokoh hubungan sosial masyarakat Tanimbar dalam wadah persaudaraan dan persekutuan agar tidak mudah pecah atau retak.

Makna Upacara Fangnea Kidabela

Upacara Fangnea Kidabela mengandung makna persatuan dan kesatuan hidup masyarakat Tanimbar baik internal maupun eksternal dalam setiap situasi. Upacara Fangnea Kidabela juga mengandung makna sebagai pemanasan, pengerasan, dan pemantapan (fangnea) terhadap persahabatan, persaudaraan (itawatan) dan keakraban (kidabela) di antara sesama sebagai suatu persekutuan wilayah teritorial Kampung Sulung di pulau Enus yang terletak di Selaru bagian selatan pulau Yamdena. Makna upacara Frangnea Kidabela sama dengan upacara Panas Pela di Ambon, Lease, dan Maluku Tengah. Upacara ini menciptakan suasana hidup bermasyarakat yang kokoh dan kuat untuk mencegah fenomena konflik dan perpecahan terhadap hubungan masyarakat

Hibua Lamo

Hibua Lamo adalah rumah besar yang dijadikan simbol masyarakat adat di Halmahera Utara, sekaligus simbol Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Di Halmahera Utara terdapat tiga etnis masyarakat yang memiliki rumah adat masing-masing, misalnya rumah adat etnis Tobelo disebut Halu. Namun Hibua Lamo yang menjadi pemersatu semua etnis. Hibua Lamo adalah konstruksi dari nilai-nilai hidup dalam masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai komunitas Hibua Lamo. Hibua Lamo merupakan konsep bersama yang disebut Nanga Tau Mahirete (rumah kita bersama). Orang Tobelo, Galela dan Loloda tersegregasi secara geografis, dan terbelenggu dalam tradisi, agama dan kepercayaan yang berbeda. Perbedaan tersebut dipahami dan dihayati dengan kesucian hati dan kemurnian pikiran, kemudian diterapkan dalam sebuah ungkapan filosofis Ngone O'Ria Dodoto yang bermakna satu ibu satu kandung. Konsekuensi dari falsafah Nanga Tau Mahurete dan Ngone O'Ria Dodoto adalah lahirnya sebuah komunitas asli Halmahera Utara daratan maupun kepulauan dalam satu kesatuan yang teridentifikasi sebagai komunitas Hibua Lamo dan kemudian disimbolkan dalam rumah adat Himua Lamo.


Dalam konteks ini komunitas Tobelo, Galela, dan Loloda mengalami proses penyatuan dalam satu sosiokultural baru yang dinamis. Sosiokultural ini berlandaskan pada nilai-nilai O'dora (saling kasih), O'hanyangi (saling sayang), O'baliara (saling peduli), O'adili (perikeadilan) dan O'diai (kebenaran) dalam bingkai Nanga Tau Mahurete dan Ngone O'Ria Dodoto.

Budaya Arumbae

Arumbae adalah bentukan karakter masyarakat Maluku, baik yang tinggal di pesisir maupun di pegunungan. Arumbae adalah kebudayaan berlayar dalam masyarakat Maluku. Perjuangan melintasi lautan merupakan bagian dari terbentuknya suatu masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat Tanimbar - dalam mitos Barsaidi meyakini bahwa leluhur mereka tiba di pulau Yamdena setelah melewati perjuangan yang sulit di lautan. Perjuangan melintasi lautan merupakan sejarah keluhuran. Kedatangan para leluhur dari pulau Seram, pulau Jawa (seperti Tuban dan Gresik) dan pulau Bali menjadi bagian dari cerita keluhuran masyarakat di Maluku Tengah, Buru, Ambon, Lease, dan Maluku Tenggara. Ragam cerita inilah yang membentuk terjadinya persekutuan Pela Gandong antar negeri. Dalam pataka daerah Maluku, Arumbae menjadi simbol daerah yang di dalamnya terdapat lima orang sedang mendayung menghadapi tantangan lautan. Secara filosofis, maknanya ialah masyarakat Maluku adalah masyarakat yang dinamis, dan penuh daya juang dalam menghadapi tantangan untuk menyongsong masa depan yang gemilang.

Laut adalah medan penuh bahaya dan Arumbae menstrukturkan cara pandang bahwa laut adalah medan kehidupan yang harus dihadapi. Itulah sebabnya, masyarakat Maluku melihat laut sebagai jembatan persaudaraan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Berlayar ke suatu pulau, seperti dalam Pela Gandong bertujuan untuk mengeratkan jalinan hidup orang bersaudara sebagai pandangan dunia orang Maluku. Kebiasaan papalele, babalu, maano, dan konsekuensi berlayar ke pulau lain, membuat laut dan arumbae sebagai simbol perjuangan ekonomi.


Arumabe tampak dalam beragam karya seni. Misalnya dalam syair kata tujuh ya nona, ditambah tujuh, sapuluh ampa ya nona dalang parao  Banyak gapura negeri adat Maluku berbentuk Arumbae. Lagu daerah banyak mengumpamakan keharmonisan dengan simbol perahu atau Arumbae. Di bidang olahraga, Arumbae Manggurebe menjadi program pariwisata dan olah raga tahunan yang diselenggarakan di Teluk Ambon.

Sasahil dan Nekora

Sasahil dan Nekora merupakan tradisi masyarakat adat di Negeri Siri Sori Islam dan Negeri Siri Sori Kristen di pulau Saparua. Bagi masyarakat desa Telalora, Nekora memiliki basis nilai tolong-menolong antarwarga. Nilai tradisi Sasahil dan Nekora terletak pada cara dan proses pelaksanaan. Nilai tolong-menolong yang terdapat dalam tradisi Sasahil maupun Nekora memiliki basis solidaritas yang kuat, dan menciptakan relasi saling memberi dan menerima antarwarga agar suatu pekerjaan berat untuk mendirikan rumah bisa lebih ringan.  Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang terus berubah, tradisi Sasahil dan Nekora selalu dipertahankan dan dipelihara dengan baik.  Hal ini dimaksudkan sebagai modal sosial kelangsungan hidup bermasyarakat di masa mendatang

Sumber : Wikipedia